Terjebak di Kepala Sendiri, Cerita Pengalaman Berdamai dengan Overthinking
Ketika Pikiran Berjalan Lebih Cepat dari Waktu, Catatan Sederhana Keluar dari Labirin Overthinking
Menjadi orang yang overthinking sesungguhnya sangat melelahkan. Mudah sekali berkata pada orang lain agar jangan overthinking, namun jika itu terjadi pada diri sendiri, rasanya begitu sulit untuk menenangkan apa yang berkecamuk di dalam kepala.
Pernah enggak sih, teman-teman merasakan hal yang sama?
Dua kejadian sederhana ini sempat membuatku terjebak dalam pusaran pikiran dalam satu hari yang sama:
Kejadian Pertama:
Panik di Pagi Hari Pagi hari sebelum Ibadah Kaum Perempuan minggu lalu (19 September 2026), tiba-tiba masuk pesan di WhatsApp Grup Pengurus. Isinya menginfokan bahwa salah satu petugas berhalangan hadir dan tidak menginformasikan siapa penggantinya.
Seketika kepala langsung berputar kencang, membayangkan bagaimana ibadah nanti akan berjalan.
Kejadian Kedua:
Photobooth dan Drama Rebutan Siang harinya, aku menghadiri syukuran HUT teman zaman kuliah di Blok M.
Dari malam sebelumnya, aku sudah riset jalur tercepat dari Pondok Kopi ke Blok M. Jadilah setelah ibadah, aku langsung naik kereta dari Stasiun Klender Baru sampai Stasiun Sudirman, lalu lanjut naik MRT ke Blok M. Tiba di Blok M sekitar pukul 13.20 WIB (perjanjian jam 2 siang) — amanlah ya!
Setelah makan, kami memutuskan window shopping dan mencicipi beberapa jajanan viral di sekitar Blok M.
Yang paling menarik perhatianku adalah photobooth di area pedestrian karena hasil cetakannya unik berbentuk koran yang dipajang. (Kata keponakanku, sekarang banyak yang seperti itu, tapi tetap saja aku antusias!).
Mulailah kami bergaya, dan tercetaklah 1 lembar ukuran A3.
Sang penjaga lalu meminta kami scan barcode jika ingin mencetak salinan sendiri. Senang rasanya..
Masalah kecil mulai muncul saat aku mau mengambil hasil cetakan itu untuk disimpan, tiba-tiba temanku yang lain langsung merampasnya.
Yahhh... padahal kan aku yang bayar
REFLEKSI DI PERJALANAN PULANG
Dalam perjalanan pulang dari Blok M naik TransJakarta bersama teman yang searah, aku menceritakan apa saja yang sempat membuatku overthinking seharian—termasuk drama kecil di photobooth tadi. Sambil tertawa kecil, aku bertanya kepadanya:
"Kira-kira, apa ya yang mau semesta ajarkan ke aku lewat dua kejadian hari ini?"
Ternyata, overthinking itu sering kali datang bukan karena ada masalah besar. Ia membesar di kepala kita hanya karena rasa cemas, ketakutan berlebihan, dan keinginan kuat untuk selalu mengontrol situasi yang sebenarnya di luar kendali kita.
LANGKAH KECIL BELAJAR BERDAMAI DENGAN PIKIRAN
Sebelum energi terkuras habis oleh overthinking yang berkelanjutan, ke depannya aku memutuskan untuk selalu melatih 4 hal ini:
- VALIDASI PERASAAN: Mengakui bahwa wajar merasa kesal atau bete untuk hal-hal kecil, tapi tidak perlu membiarkan hal tersebut merusak seluruh memori indah hari itu.
- KOMUNIKASI: Belajar berani menyuarakan ketidaknyamanan secara sehat, daripada memendamnya dan malah overthinking saat malam menjelang tidur.
- MELEPASKAN EKSPEKTASI: Menyadari bahwa orang lain kadang bertindak tanpa pikir panjang (tanpa niat jahat), jadi tidak semua gestur kecil harus dimasukkan ke dalam hati.
- FLEKSIBEL: Belajar merelakan bahwa kita tidak harus memegang kendali atas segalanya. Selalu ada ruang untuk fleksibilitas dan solusi di detik-detik terakhir.
CATATAN PENUTUP
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan merenungkan hal-hal kecil di luar kendali kita. Sesungguhnya, semua bisa dibicarakan dan diselesaikan dengan baik.
Jangan cepat mengambil kesimpulan dalam hati bahwa semuanya akan kacau berantakan, padahal kenyataannya baik-baik saja dan masih dalam batas kewajaran.
Entah itu kekacauan jadwal pelayanan maupun gestur usil dari seorang teman, yang paling penting hari itu adalah kami semua bisa pulang dengan membawa cerita dan senyuman:
- Ibadah berjalan lancar sampai selesai dan Kaum Perempuan yang hadir merasa terberkati.
- Acara syukuran HUT teman kuliah berjalan hangat, semuanya kenyang dan senang.
Sadari saja bahwa overthinking adalah bagian dari proses menjadi manusia, dan
itu bukan tanda kelemahan. Proses berdamai dengan diri sendiri butuh waktu, dan
tidak apa-apa untuk melangkah perlahan.



Komentar
Posting Komentar